KTEC Maksimalkan Kursus Bahasa Inggris Untuk Masyarakat Tanimbar.

Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris "Katong Tanimbar English Club" (KTEC) yang beralamat di Jalan Ir. Soekarno Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) bentukan Nicky Lambiombir hingga kini telah menghasilkan sejumlah lulusan yang dipastikan memiliki kemampuan dalam berbahasa Inggris.
Share it:
Saumlaki, Dharapos.com - Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris "Katong Tanimbar English Club" (KTEC) yang beralamat di Jalan Ir. Soekarno Saumlaki, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) bentukan Nicky Lambiombir hingga kini telah menghasilkan sejumlah lulusan yang dipastikan memiliki kemampuan dalam berbahasa Inggris.

Di sela-sela perayaan hari ulang tahun yang ke-3, Nicky menyatakan bahwa meskipun operasional KTEC itu sempat mengalami pasang-surut, namun pihaknya tetap semangat dan optimis dalam melayani para peserta didik yang terdiri dari sejumlah kelas.

"Sempat berubah nama beberapa kali dari Beta Tanimbar pada 2009. Lalu pada 2010, saya gabung dengan Bapak Dani Amarduan pada LPK Serintunan selama setahun. Kemudian saya mencoba bangun sendiri dengan nama Like To Study English selama dua tahun dengan murid-murid yang masih ada sampai sekarang yakni Nona Elin dan Nona Lisya Tupan yang sekarang menjadi asisten saya," kisahnya.

Tahun 2013, lembaga ini berganti nama menjadi KTEC.

Meski demikian diakuinya, bahwa saat itu dirinya merasa belum mampu untuk membuka sejumlah kelas, karena keterbatasan anggaran untuk membiayai sejumlah tenaga bantu.

Berbekal izin dari Pemda Kepulauan Tanimbar, lembaga ini semakin berbenah dan lebih meningkatkan jam belajar bagi peserta.

"Kami punya murid ada 32 orang. Mereka belajar 4 hari dalam seminggu yaitu hari Selasa, Rabu, Kamis dan Sabtu. Penentuan jadwal ini disesuaikan dengan jadwal ibadah umat GPM dan Katolik," sambungnya.

KTEC memiliki kelas Molo Maru yaitu kelas pemula,  kelas Larat yaitu kelas bagi murid pemula biasa, kelas Selaru yaitu kelas menengah dan kelas Yamdena yaitu menengah atas.

Pembagian kelas ini bukan berdasarkan usia tapi pada tingkat kemahiran berbahasa Inggris.

Hanya saja, penentuan kelas belajar  tetap berkoordinasi dan butuh kesepakatan  dengan orang tua murid.

"Targetnya, anak-anak murid dapat berbicara dengan lancar," cetusnya.

Nicky mengatakan, ada rencana untuk membebaskan biaya kursus  bagi peserta yang kini menyetor Rp.100.000 per bulan sesuai visi lembaganya.

Rencana itu akan diberlakukan jika dirinya sudah memiliki biaya untuk membayar upah para asistennya.

"Saya rindu mengajari bahasa Inggris kepada anak-anak Tanimbar tanpa mengeluarkan biaya. Tapi itu saya butuh waktu paling cepat  tiga tahun kedepan dan paling lama lima tahun lagi," sambungnya.

Hal itu membutuhkan tenaga pengajar atau guru yang benar-benar relawan murni sehingga jumlah murid yang masih terbatas pada 30 orang bisa bertambah lagi.

Nicky berharap, lembaganya itu mendapat sentuhan dari Pemkab Kepulauan Tanimbar.

"Itu harapan saya sehingga pelayanannya dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa di wilayah terdepan NKRI ini terwujud," tukasnya.

(dp-47)
Share it:

Pendidikan

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi