Sejarah Masuknya Islam Di Tanah Kei Berdasar Bukti dan Letak Geografi

Sejarah masuknya Islam di Kepulauan Kei memiliki kisah tersendiri yang didasari pada sejumlah bukti yang ditemukan serta letak geografi.
Share it:
Masjid Tahiyat sebagai masjid tertua di pulau Tayando
sebagai bukti sejarah pertama kali masuknya
Agama Islam di Kepulaua Kei

  
Tual, Dharapos.com
Sejarah masuknya Islam di Kepulauan Kei memiliki kisah tersendiri yang didasari pada sejumlah bukti yang ditemukan serta letak geografi.  
Kepada Dhara Pos, Ketu Fahmi Tamami Maluku, Drs J. Tamsil Kilwo menuturkan agama Islam pertama kali masuk tanah Kei di desa Yemru, Kecamatan Tayando Tam, Kota Tual pada tahun 1252.

“Islam berawal dari tanah Arab (arah barat) dan bila masuk ke tanah Kei tepatnya Tual dan Maluku Tenggara, kita harus lewati pulau Banda, pulau Kur, dan  pulau Tayando baru bisa masuk ke kota Tual dan Maluku Tenggara,” tuturnya.

Kendati demikian, pulau Banda dan Kur tidak disebut sebagai pintu masuknya Islam di tanah Kei.

“Karena pulau Banda berada di wilayah Maluku Tengah dan pulau Kur baru masuk ke wilayah Maluku Tenggara pada tahun 1952 dan ini terbukti,” urai Kilwo.

Dijelaskan, pulau Tayando memiliki nama asli atau yang sebenarnya yaitu pulau Rat Nara atau Rat Na’a Rai yang artinya raja ada ke sana atau raja ada di sana. Dan panggilan Tayando berasal dari Tahayad yaitu nama kampung dan sekarang di panggil Ohoitom.

Sekarang ini dinamakan kampung sejarah karena Tahayad sendiri berasal dari empat kata yaitu  pertama dari kata Tahayud  yang artinya adalah orang yang melakukan sholat Qiamul lail (sholat tengah malam). Lalu kata kedua, Tahiyat yaitu orang yang melakukan sholat saat sedang Tahiyat.

Selanjutnya, Tahit yad yado (yad yaduk) dimana ada suatu tempat selalu bergelombang walaupun cuaca laut dalam teduh dan yang yang terakhir Tahajad yaitu bila ada suatu perkara, peristiwa atau pekerjaan yang di tangani orang Tayando /tahayad maka pasti terselesaikan dengan baik.

Menurut Kilwo, kampung Tahayad (Ohoitom) memiliki luas kurang lebih seukuran 20 hektar kampung Islam. Sebagian pindah kepulau Haniar (Tayando Yamtel), ada yang pindah ke kampung Ohio’el dan sebagian di pindahkan ke Tayando Langgiar dan ke kampung taif (desa Yemru).

“Dengan demikian terkait dengan masuknya agama Islam di tanah Kei agar publik tahu jelas bahwa Islam masuk di Kei berawal di desa ini dan juga di tahun yang sama. Kita tidak boleh cerita di luar pengetahuan,” terangnya.

Dijelaskan pula bahwa untuk bukti masuknya Islam di tanah Kei sesuai letak geografi yaitu adanya sebuah masjid tua bernama Tahiyat, terletak di desa Yemru. Dimana pada tahun 1252 M/649 H atau abad ke 13, para pembawa Islam dari tanah Arab datang dengan dua kapal, yang turunannya ada dua marga yaitu Kabakoran dan Kabalmai dan pada waktu itu, usai perang salib berkecamuk.

Lalu dua kapal tersebut kandas atau karam di pulau Rat Nara Tayando. Salah satu dari kedua kapal tersebut memuat Al’Quran yang kemudian keturunannya disebut Kabakoran dari gabungan kata Kaba-kapal Quran.

Sedangkan  kapal yang satu lagi mengangkut masyarakat dari Bani Ummayah yang kini keturunannya disebut Kabalmai dari kata asal kata Kaba-Ummayah.

Kedua kapal tadi kini berada di tengah pulau pada kawasan hutan desa Yemru karena pada waktu itu pulau tersebut belum muncul dari dasar laut. Namun setelah timbul, kedua kapal itu tidak bisa keluar lagi.

“Dan terbukti kedua kapal masih ada. Kami pun sudah melakukan survei dan dokumentasinya juga lengkap,” ujar Kilwo.

Fakta ini membuktikan bahwa di tanah Kei, Islam pertama kali masuk di desa Yemru. Bahkan sejumlah bukti lain diantaranya kuburan tua berlokasi di Maala serta masjid tua yang juga telah disaksikan oleh Gubernur Maluku Ir Said Assagaff saat berkunjung ke Tayando.

“Setelah kami cek, dua kapal itu asli dari Yordania dan bukti sejarah ini jelas-jelas ada dan kami masih memegang buku-buku peninggalan moyang-moyang kami. Setiap hari besar kami selalu membersihkan makam para penyiar Islam di Maala yang berbatasan langsung dengan desa Ohoitom dan Yemru,” sambungnya.

Selain itu juga, ada satu makam di pulau kecil (Nuut Rafet) yang letaknya persis di belakang masjid tertua yakni makam seorang Habib bernama Mohammad bin Abolah.

Selama ini masyarakat juga meyakini bahwa Islam tumbuh dan berkembang di Tayando dan dipelopori oleh Balbol Rahakbauw dan Animet Banyal sesuai bukti-bukti yang ditemukan di sekitar pulau Tayando dan juga pulau-pulau sekitar seperti pulau Kur, Kamear, Fadol, Mangur, dan Tam.

“Juga dengan bukti tidak adanya kaum basudara Kristen di pulau Tayando maupun pulau-pulau di sekitarnya dan semuanya beragama Islam,” tuturnya seraya kembali mengulang sejumlah bukti baik masjid tua, kuburan tua dan kapal tua serta yang terakhir Al’Quran tua.

(dp-20)
Share it:

Feature

Masukan Komentar Anda:

3 comments:

  1. saudara Drs. J. Tamsil Kilwo terlalu terburu-buru menisbah-kan kabalmay > kaba-umayyah..
    untuk diketahui.. kabalmay asal katanya kaba-mael > Kapal-Ismail
    tahun 80-an baru dirubah ejannya menjadi kabalmay ntuk memudahkan pengucapan/penulisannya..

    BalasHapus
  2. Kurang masuk akal..tdk objektif..

    BalasHapus
  3. Assalamu'alaikum , Abang Admin beta dari Kei hidup di Jawa sudah puluhan tahun, ( ABDUL HAMID BIN ADAM BIN ABDUL GANI BIN LARAT BIN DATUK BALBOL RAHAKBAW ) mau tanya sedikit deng abang Admin. Siapakah nama asli DATUK ABALBOL RAHAKBAUW ? karna bapa pernah bilang kalo nama datuk itu bukan mnama asli alias nama samaran . mohon penjelasan . Beta minta maaf kalo sudah lancang bertanya sama abang Admin, beta tunggu jawabannya, sekian trimakasih. Massalamah . no ( 085700037541 / 082225546032 ).

    BalasHapus

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi