Masyarakat Diminta Lestarikan Budaya Duan Lolat Dalam Penyelesaian Batas Wilayah.

Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Jaflaun Batlayeri mengajak masyarakat di wilayah itu untuk terus melestarikan tradisi dan budaya warisan para
Share it:
Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Jaflaun Batlayeri.

Saumlaki, Dharapos.com - Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Jaflaun Batlayeri mengajak masyarakat di wilayah itu untuk terus melestarikan tradisi dan budaya warisan para leluhur tentang hidup bersama orang Tanimbar tanpa kekerasan.

Dia menyatakan,  konflik batas tanah yang kerap terjadi di daerah itu lantaran komunikasi antar masyarakat desa tidak terbangun lagi. Masyarakat adat di setiap desa terdiri dari status sosial "Duan dan Lolat" serta ada hubungan keakraban pela. Kendati hal tersebut merupakan warisan budaya, namun dewasa ini, komunikasi antar "orang saudara" itu seakan menghilang.

Hal ini terlihat dalam setiap penyelesaian perbedaan pendapat tentang batas tanah adat di setiap desa.

"Kita sudah ada pada musim buka lahan untuk kebun. Tanimbar selalu tercoreng  dengan konflik batas tanah. Hubungan persaudaraan Duan Lolat di Tanimbar ini jangan hanya jadi 'Topeng'. Mari selesaikan batas tanah secara hubungan persaudaraan Duan Lolat," tegas Jaflaun saat memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi sosialisasi batas tanah kepada para Camat dan Kades di aula pendopo Bupati, Saumlaki, Rabu (10/8/2022).

Jaflaun menyebutkan bahwa dahulu, komunikasi para leluhur Tanimbar sangat baik. Terbukti, masyarakat di pulau Selaru mendayung perahu semang dan atau perahu layar ke pulau Fordata dan atau sebaliknya untuk "panas Pela". Tradisi ini menurutnya penting untuk terus dilakukan, sehingga masyarakat terbiasa menyelesaikan persoalan dengan budaya warisan leluhur.

"Sekarang budaya  panas pela ini sudah jarang dilakukan. Terakhir, saya dengar ada di desa Arma dan Waturu, Namtabung dan Abat" katanya.

Untuk itu dia mengajak para kades menghidupkan hubungan Duan Lolat dan menjadikan Tanimbar bukan tanah konflik, karena pancaran darah orang Tanimbar mengalir turun temurun. 

"Konflik membunuh budaya. Kalau saya suka berkonflik, maka saya sedang membunuh budaya Duan Dolat. Konflik tidak pernah membawa perubahan positif" ujarnya.

Dia berharap tahun ini tidak ada lagi konflik  pada saat warga membuka lahan baru atau buka sasi. Hal ini bisa terjadi jika para kades berperan untuk melakukan rapat dengan masyarakat dan melakukan koordinasi dengan baik. 

"Jangan sampai orang bilang kita punya budaya Duan Lolat ini hanya topeng saja. Lestarikan budaya Tanimbar. Jangan karena ada kepentingan lalu lupa siapa kita. Lupa tetangga, lupa keluarga dan lupa Duan Lolat. Jangan pernah lupa sejarah. Lupa sejarah, lupa jati diri. Saya yakin para Kades ini orang baik-baik yang mau melakukan sesuatu yang biak untuk kepentingan desa dan Tanimbar ini," pesannya lagi.

Dikesempatan itu, Jaflaun juga menyinggung keinginan beberapa Kades untuk melakukan prosesi "panas pela', tetapi terganjal anggaran yang selalu terpotong di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD).

"Saya ingatkan Dinas PMD, jika ada usulan untuk panas pela jangan dipangkas anggarannya. Tidak boleh. Satu kampung itu konflik karena tatanan budaya tidak lagi dikembangkan. Kades dan BPD sudah rembuk dan usulkan, tapi hilang di atas. Ini yang saya temui" tegasnya.

Dia pun meminta kepada Penjabat Bupati Kepulauan Tanimbar agar jika ada usulan anggaran untuk panas pela,  jangan diabaikan. Karena budaya ini adalah instrumen orang basudara, instrumen perdamaian selain agama. 

"Kepada para Kades yang suka bikin kampungisme, untuk kepentingan kampung sendiri dan tertutup dengan kampung lain, saya harap jangan terjadi lagi. Para camat juga demikian. Kita ini semua orang Tanimbar,  Jangan suka menyendiri dan tertutup untuk orang luar," tutupnya.


Pewarta : Novie Kotngoran

Share it:

Kabupaten Kepulauan Tanimbar

Politik dan Pemerintahan

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi