Maluku Bukan Lagi Endemis Tinggi Malaria

Share it:
Staf Ahli Bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Lutfi Rumbia saat menyampaikan sambutan Gubernur Maluku
Ambon, Dharapos.com - Penyakit malaria pernah mengancam Maluku.

Namun saat ini, provinsi berjuluk 1000 pulau ini bukan lagi daerah endemis tinggi penyakit itu.

Pimpinan Yayasan Pelangi Maluku, Rosa Pentury membenarkan hal itu.

Diakuinya, malaria merupakan salah satu penyakit yang sangat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.

"Pengaruh yang ditimbulkan multi kompleks sebab dapat meningkatkan kematian pada bayi, balita dan ibu melahirkan serta dapat menurunkan produktivitas kerja, bahkan dapat menimbulkan gangguan dan menurunkan citra dan nilai politis suatu negara," saat menyampaikan laporan selaku ketua panitia kegiatan Evaluasi Rencana Induk Eliminasi Malaria di Maluku bedi Swiss Bell Hotel, Rabu (6/11/2019)

Untuk itu, kerja sama lintas sektor sangat penting dalam meningkatkan eliminasi malaria di Maluku.

Tentunya keberhasilan Provinsi Maluku dalam eliminasi malaria akan memberikan dampak positif.

"Yaitu tidak hanya dari sisi kesehatan tetapi juga perekonomian, pendidikan dan pariwisata," pungkasnya.

Sementara, Gubernur Maluku  dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli Bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Lutfi Rumbia sekaligus membuka kegiatan menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya evaluasi.

"Tujuan penanggulangan di Indonesia adalah untuk mencapai eliminasi malaria secara bertahap selambat- lambatnya 2030," urainya.

Menurut Gubernur, pertemuan ini adalah untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kemajuan program eliminasi malaria di daerah ini sesuai rencana induk 2015-2020.

Untuk percepatan eliminasi malaria di Maluku, telah dilakukan berbagai kegiatan strategis dengan inovasi - inovasi spesifik yang sesuai dengan kondisi daerah yakni dengan pendekatan gugus pulau.

Berkat kerja sama lintas sektor, kemajuan program eliminasi malaria di Maluku ini kemudian mendapat apresiasi di tingkat nasional.

"Karena Maluku bisa keluar dari situasi endemis tinggi malaria pada 2014 dengan jumlah kasus positif sebanyak 15.244 kasus menjadi endemis sedang pada 2018 dengan jumlah kasus positif 2.282 kasus," tukasnya.

(dp-19)
Share it:

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi