Di Lermatang: Vape, Sabut Kelapa, Rak Telur, Sendal Bekas Pengusir Nyamuk Berganti Dengan Kelambu

Lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang diselenggarakan oleh SKK Migas - INPEX Masela Ltd. melalui LSM PITA dua pekan lalu di desa Lermatang
Share it:
Penyerahan Kelambu oleh Ketua LSM PITA kepada puluhan kepala keluarga di Kampung Lama desa Lermatang.

Saumlaki, dharapos.com - Lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang diselenggarakan oleh SKK Migas - INPEX Masela Ltd. melalui LSM PITA dua pekan lalu di desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar berbuah manis. Vape, sabut kelapa, rak telur dan kipas angin pengusir nyamuk berganti dengan kelambu.

Lomba PHBS selain memacu masyarakat untuk hidup bersih dan sehat dengan sejumlah hadiah, ada juga buah tangan lain yang menyentuh hati puluhan Kepala Keluarga (KK) bermata pencarian nelayan di desa itu.

Sebanyak lima puluh lembar kelambu yang diserahkan oleh Ketua LSM Peduli Ibu dan Anak Tanimbar (PITA) Jacklin Silety  kepada Pemerintah Desa Lermatang, Rabu siang (19/1/2022) dan berlanjut dengan pemasangannya di rumah warga penerima bantuan yang berlokasi di Kampung Lama. Pemberian ini merupakan buah tangan atau ole-ole dari kerja sama juri, SKK Migas,  INPEX dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Tanimbar. 

Agustina Akakib, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) pada dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang juga sebagai ketua tim juri dari PKK sempat bertutur tentang kondisi yang dialaminya pekan lalu, saat dirinya datang melakukan penilaian PHBS dan Taman Natal di kelompok 9, salah satu kelompok paling terakhir di Kampung Lama. Saat  dia digigit nyamuk, tergerak nalurinya  tentang kondisi warga setempat saat tidur malam.

Foto bersama antara Agustina Akakib, Kepala Bidang P2P dan masyarakat di Kampung lama saat penilaian lomba PHBS dan Taman Natal.
"Bapak Ibu, disini banyak nyamuk kah?" kata Agustina meniru percakapannya saat itu.

Empat orang bapak dan tiga ibu yang berdiri tepat di depan Taman Natal itu sontak mengaku  "iya, banyak nyamuk disini ibu". Lalu Bapak Ibu biasa tidur pakai kelambu?" Jawab mereka malu-malu "Tidak ada kelambu ibu," lanjut Agustin.

Beberapa hari kemudian, Jacklin mendatangi kantor Dinas Kesehatan untuk menjemput lima puluh unit kelambu dan  dibagikan kepada masyarakat  di Kampung Lama. 

Ibu empat orang anak itu bersama dengan  Kepala Seksi Pelayanan Desa Lermatang Otniel Batlolone, langsung masuk rumah dan memasang kelambu  ke kamar tidur milik Daniel Laratmase (23). Kamar Danie berukuran  2,5x 2 meter tanpa alas, dengan satu bola lampu listrik yang terpasang menerangi ruang tamu, dapur hingga kamar tidur di rumah papan itu.

Ternyata alas tidur mereka hanya ada satu lembar spons tipis yang dibuka di dalam kios atau warung berukuran 2x2 meter. Daniel dan anak istri biasanya beristirahat di kios, sambil membakar obat nyamuk vape untuk melindungi mereka dari serangan nyamuk.

Daniel mengaku sudah tinggal di desa Lermatang, Kampung Lama  sejak masih sekolah hingga berumah tangga dan memiliki dua orang anak yang masih balita. Namun dia mengaku belum pernah merasakan nyamannya tidur dengan kelambu. 

"Kami belum pernah punya kelambu. Selama ini saya dan keluarga tidur dengan hanya mengunakan obat pengusir nyamuk jenis vape setiap malam" kata Daniel malu-malu. 

Ketua LSM PITA dan Staf Desa Lermatang, memasang kelambu di rumah seorang warga desa.

Meskipun tidak baik untuk kesehatan, Daniel dan keluarganya menghabiskan dua sampai  tiga  lingkar obat nyamuk sepanjang tidur di malam hari. Daniel mengakui,  dia dan  seisi rumahnya baru saja melewati sakit muntaber dan malaria secara bergantian. 

Berbeda dengan Daniel,  Antoneta Rangkoli (33) mengaku sudah pernah  memiliki kelambu yang diberikan dari Dinad Kesehatan, namun disalahgunakan. Kelambu malang itu saat  dicuci dan di jemur, ada pemilik gelap alias pencuri datang membawanya ke laut untuk dipakai menangkap ikan.

"Saat kelambu itu hilang, kami belum punya kelambu sampai sekarang. Kami  tidur dengan menggunakan obat nyamuk atau kulit kelapa untuk mengusir nyamuk" ujarnya perempuan berbadan dua itu dengan jujur.

Senada dengan lainnya, Agustina Batmetan (45)  yang sudah tiga tahun tinggal di Kampung Lama,  juga mengakui bahwa  nyamuk masih menjadi ancaman nomor satu dimalam hari. Meski begitu,  kelambu bukan kebutuhan utama bagi dia dan keluarganya. Mereka menjadikan vape, rak telur atau membakar sendal bekas itu menjadi pekerjaan rutin menjelang tidur di malam hari.

"Bakar begitu biar nyamuk pergi, walaupun  kami sangat tidak nyaman mencium aroma bakar-bakar dan asap itu. Kami ucapkan terima kasih kepada INPEX, SKK Migas dan Dinas Kesehatan yang sudah peduli dengan kami disini "katanya.

Otniel Batlolone usai memasang kelambu di rumah Daniel, menjelaskan kondisi ril warganya.

"Masyarakat disini hidupnya pas-pasan, sehingga wajar sekali bantuan ini diserahkan kepada mereka untuk mengantisipasi adanya wabah yang sedang merajalela dan melanda desa ini" ujar Otniel 

Kepala Seksi Pelayanan Desa Lermatang Otniel Batlolona.

Dia menyebutkan, ada tiga puluh delapan Kepala Keluarga yang mendiami lokasi Kampung Lama. Rata-rata, mereka semua belum memiliki kelambu. Dia membenarkan pernyataan sejumlah warganya itu. Menurutnya, pada malam hari, mereka (warganya-red), hanya menggunakan obat nyamuk bakar, rak telur, kulit kelapa dan ada juga yang menggunakan kipas angin untuk mengusir nyamuk, kendati kebiasaan warga itu tidak baik untuk kesehatan. 

Daniel juga menyebutkan bahwa warganya di Kampung Lama itu bermata pencaharian sebagai nelayan tangkap dan nelayan budidaya rumput laut. Mereka sudah tinggal di Kampung Lama ini sejak tahun 2015.  Di desa Lermatang, ada 7 RT dan Kampung Lama adalah bagian dari  RT 01. Sesuai program Kepala Desa, akan ada  pemekaran satu  RT lagi di desa itu.

Atas nama Pemerintah Desa dan masyarakat Lermatang di Kampung Lama, Daniel berterima kasih kepada SKK Migas, INPEX , LSM PITA dan Dinas kesehatan yang sudah memberikan bantuan kepada warganya.

Dalam perjalanan menyusuri hunian warga, kami sempat bercerita dengan Dina Batmetan (43). Dina mengaku punya penghasilan harian mencapai Rp 300.000 hingga Rp.500.000 per hari. Jumlah penghasilan itu dia peroleh dari hasil tangkap ikan. Sedangkan, penghasilan lain dari budidaya rumput laut, bisa mencapai Rp 3.000.000 per bulan.

Penghasilan mereka berlimpah, karena sebulan bisa mencapai Rp 15.000.000, melebihi gaji Bupati yang hanya Rp.5.000.000 per bulan. Ironisnya, kelambu yang dijual di pasar Omele dengan kisaran harga Rp.150.000 hingga Rp.300.000 ini tak mampu mereka beli.

"Dari dulu anak-anak saya tidak pakai kelambu, jadi kami tidak beli. Tapi bantuan kelambu hari ini kami pasti pakai, karena sudah banyak penyakit menular. Anak saya juga baru sembuh dari muntaber" ungkap perempuan berambut pendek itu.

Donny Rijaluddin, Social Investment Specialist INPEX Masela Ltd. dalam sambutannya berharap agar bantuan yang diberikan dapat diterima dan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat Lermatang. 

"Semoga bantuan yang diberikan dapat membantu mewujudkan masyarakat Desa Lermatang yang sehat dan bebas dari penyakit yang selama ini kerap diderita oleh masyarakat seperti muntaber, demam berdarah dan penyakit menular lainnya," ujar Donny. 

Kata Donny menambahkan, program ini merupakan salah satu wujud komitmen SKK Migas dan INPEX melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, khususnya terkait program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat M (PHBS) kepada warga Desa Lermatang yang dilakukan secara konsisten dari tahun ke tahun dalam rangka mewujudkan masyarakat Lermatang yang sehat dan bebas dari penyakit yang mematikan.

Pria berwajah tampan itu berterima kasih kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan LSM PITA sebagai partner implementasi program PPM INPEX Masela yang telah membantu mengidentifikasi serta menyediakan kelambu untuk masyarakat.

Penyerahan secara simbolis di kantor desa Lermatang.
"Tanpa bantuan dari Dinas, ini semua tidak mungkin dapat terwujud. Ini sekaligus merupakan wujud kerjasama, sinergi dan kolaborasi yang baik antara kami dan Pemerintah Daerah untuk bersama bahu membahu membantu masyarakat yang membutuhkan," tandasnya.

Untuk diketahui, salah satu dari 12 indikator PHBS adalah kebersihan lingkungan. PHBS menjadi salah satu faktor penentu kesehatan warga, karena saat musim hujan, banyak penyakit seperti muntaber dan malaria yang menyerang warga.

Memang agak sulit mengubah pola perilaku hidup bersih masyarakat yang sudah terbiasa dengan perilaku lama. Jangankan kebersihan lingkungan, kebersihan diri saja belum tentu terurus. Semoga Vape, sabut kelapa, rak telur dan atau sendal bekas yang telah tergantikan oleh kelambu itu akan mendorong peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, serta mengubah perilaku warga untuk cerdas dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Pewarta : Novie Kotngoran

Share it:

Kabupaten Kepulauan Tanimbar

Kesehatan

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi