Tim Medis RSUD Magretti Belum Bisa Umumkan Hasil Diagnosa BN

Tim medis yang menangani BN, salah seorang suspect Corona dari desa Sifnana, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku yang kini sedang menjalani karantina di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. PP Magretti, belum bisa memastikan hasil laboratorium terkait spesimen terduga pasien terjangkit COVID-19 itu.
Share it:
BN terlihat berpose dengan tim medis RSUD dr. PP. Magretti Saumlaki diruang karantina
Saumlaki, Dharapos.com - Tim medis yang menangani BN, salah seorang suspect Corona dari desa Sifnana, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku yang kini sedang menjalani karantina di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. PP Magretti, belum bisa memastikan hasil laboratorium terkait spesimen terduga pasien terjangkit COVID-19 itu.

Hal ini dikarenakan spesimen suspect Corona itu baru saja dikirim ke laboratorium Puslitbang Kemenkes RI di Jakarta pada hari Sabtu sore (15/2/2020).

"Spesimennya baru dikirim kemarin sore (Sabtu-red) dan tiba di Puslitbangkes pukul 18:00 WIB. Nah, karena hari ini merupakan hari libur maka mungkin hari Senin baru proses penelitian spesimen yang kita kirim. Normalnya itu antara dua sampai lima hari baru kita bisa terima hasil laboratorium" kata Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Kepulauan Tanimbar, dr. Edwin Tomasoa di Saumlaki, Minggu (16/2/2020).

Proses pengiriman spesimen suspect Corona ini dikawal oleh petugas khusus dari laboratorium kesehatan Ambon dan dipastikan telah diterima oleh pihak Puslitbang Kemenkes RI.

Tomasoa menambahkan, Alat Perlindungan Diri (APD) yang dibutuhkan oleh tim medis dari RSUD dr. PP Magretti Saumlaki telah diserahkan oleh Dinkes Provinsi Maluku di hari Kamis dan saat ini sudah digunakan oleh tim medis.

Ditambahkan, kondisi pasien saat ini sudah stabil dan tidak ada keluhan. Tim medis memastikan, suspect Corona saat mendekati normal.

"Sementara, dokter spesialis, karena kondisi pasien stabil maka mungkin kita belum butuhkan. Nanti hasilnya sudah ada baru berdasarkan hasil itu, kita akan bertindak" katanya.

Tomasoa memastikan, pihak rumah sakit akan tetap menerapkan  sistem penjagaan yang ketat sehingga tak satupun yang bisa menemui BN.

Sebelumnya, BN (19) warga desa Sifnana, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku diduga terinfeksi virus Corona.

Ia ditetapkan statusnya sebagai Suspen atau terduga oleh pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. PP. Magretti, Rabu (12/2/2020) sekitar pukul 14.00 Wit.

Kepala Dinas Kesehatan setempat, dr. Edwin Tomasoa menjelaskan, pasien dilaporkan mengeluh karena batuk, mengalami sakit tulang belakang dan sesak nafas.

BN adalah WNI yang baru saja kembali dari Malaysia melalui Medan pada 7 Februari 2020 lalu.

"Atas laporan ini, tim kami langsung diterjunkan ke rumahnya di Sifnana dan membawa yang bersangkutan ke RSUD untuk dilakukan pemeriksaan sesuai prosedur penanganannya," sambung Tomasoa.

Dalam penanganan awal, tim medis rencananya mengambil spesimen awal seperti usapan dari kerongkongan atau lendir dan akan dikirim ke Surabaya untuk diteliti.

Selama menanti hasil penelitian tim dokter di Surabaya, pasien masih akan dikarantina di ruangan isolasi VIP RSUD Magretti selama 14 hari. Dan akan dipulangkan jika hasilnya membuktikan bahwa BN tidak terinfeksi virus Corona.

Keterangan yang diperoleh oleh tim Dinkes dari BN menyebutkan bahwa saat di Malaysia, ada temannya di asrama yang terinfeksi virus Corona.

Dirinya sempat dikarantina bersama rekan-rekannya untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan.

Setelah dinyatakan bebas virus, dirinya dipulangkan ke Indonesia melalui Medan.

Setelah pemeriksaan dilakukan, pihak RSUD memberikan keterangan pers kepada wartawan yang hadir.

"Hasil pemeriksaan fisik oleh dr. Novita Tilukay menyebutkan bahwa pasien masih dalam batas normal dan belum ada indikasi lain. Harusnya dokter melanjutkan dengan pemeriksaan sputum atau pemeriksaan dahak," kata dr. Fulfully Ch. Nuniary, Direktur RSUD Dr.PP Magretti.

Ia memastikan bahwa keluhan sesak nafas yang dilaporkan awal tidak terbukti karena setelah pemeriksaan, dokter memastikan bahwa BN tidak mengalami sesak nafas.

BN diajak untuk menceritakan riwayat sakitnya, dimana yang paling dikeluhkan adalah sakit tulang belakang.

"Besok kami akan minta alat dari Ambon untuk pengiriman Sputum ke Surabaya. Kita akan menunggu hasil laboratorium. Jika dalam pemeriksaan laboratorium dan ditemukan virus Corona baru pasien bisa dinyatakan positif terjangkit virus Corona," bebernya.

dr. Fulfully menambahkan, saat ini pihaknya masih mencurigai pasien dengan keadaan yang mengeluh sesak nafas. Hal ini patut dicurigai karena ada korelasinya dengan kasus Corona.

(dp-18/47)
Share it:

Utama

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi