Kecam Kinerja PLN M2U, Bupati Malra: “PLN Itu Pembohong”

Pemandangan menarik terjadi ketika digelarnya pertemuan bersama antara Pimpinan dan Anggota Komisi I, II, II dan IV DPRD Provinsi Maluku dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku Tenggara (Malra), di aula Kantor Bupati setempat, Kamis (13/2/2020).
Share it:
Momen pertemuan bersama antara Pimpinan dan anggota Komisi I, II, II dan IV DPRD  Maluku dengan Pemda Malra, di aula Kantor Bupati setempat, Kamis (13/2/2020)
Langgur, Dharapos.com – Pemandangan menarik terjadi ketika digelarnya pertemuan bersama antara Pimpinan dan Anggota Komisi I, II, II dan IV DPRD Provinsi Maluku dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku Tenggara (Malra), di aula Kantor Bupati setempat, Kamis (13/2/2020).

Pertemuan tersebut dilaksanakan dalam rangka kegiatan pengawasan Dewan Provinsi di wilayah itu.

Di hadapan para anggota Parlemen Maluku tersebut, Bupati Malra, M. Thaher Hanubun yang didampingi wakilnya, Petrus Beruatwarin, menyampaikan kekesalannya terhadap kinerja  PT. PLN Persero Wilayah Maluku - Maluku Utara (M2U), khususnya terkait pelayanan di wilayah Kei Besar.

Demi membela kepentingan rakyatnya, Bupati Hanubun mengaku sangat kesal dan mengecam keras kinerja pihak PLN M2U dengan menyebut mereka sebagai pembohong besar.

"PLN ini pembohong pembohong pung nene moyang ini dong (mereka, red). Dong pikir Maluku Tenggara ini dong pung gudang,” kecamnya.

Pernyataan Bupati tersebut bukanlah tanpa alasan, karena terbukti ada lokasi di jalan (arah menuju ohoi Kolser) terdapat peralatan milik PLN seperti kabel, tiang dan lain-lain.

“Dong taruh dong pung barang-barang di arah Kolser itu, dong sudah angkat banyak. Saya pernah kesitu dan tanya ini kenapa? Dan dijawab, ini dong pung gudang. Memangnya dong kira Maluku Tenggara ini gudang ?” kesalnya.

Hal yang sama juga terjadi di lokasi pembangunan PLN di Elat, dimana barang-barang (peralatan) diletakkan begitu saja tanpa ada pekerjaan.

“Beta sudah bebaskan lahan untuk PLN. Yang di Elat sana itu dong taruh barang-barang begitu saja seng ada pekerjaan, padahal itu nilainya miliaran rupiah,” sambungnya.

Selain itu, tiang-tiang listrik yang sudah didirikan juga tidak sesuai dengan standar bahkan terkesan asal-asalan saja.

“Tiang-tiang yang sudah berdiri (oleh kontraktor) itu jarak antara tiang yang satu dan tiang yang lain itu harusnya (minimal) 50 meter, tapi dong bikin 60-70 meter, baru dong tanam tiang itu asal taruh saja. Ini orang seng carita par beta, tapi beta sendiri datang dan lihat sendiri.  Sekarang kabel-kabel su jatuh. Kei Besar Utara Timur sejak lima tahun lalu dan Kei Besar Utara Barat tiga tahun yang lalu, saat ini lampu seng menyala,” bebernya.

Bupati Hanubun juga mengungkapkan, pihak PLN berjanji untuk melakukan pemasangan PLTS di Elat namun janji tersebut tidak dilaksanakan.

“Dong bikin PLTS, itu dong taruh begitu saja di Elat, beta sudah bebaskan lahan (bayar lunas lahan), bahkan Direktur PLN Maluku – Maluku Utara dia ikut beta sampai di Jakarta untuk menyampaikan tapi habis itu nol besar,” sambungnya.

Untuk diketahui, bukan hanya lahan yang sudah disiapkan, namun mesin milik Pemda juga sudah diserahkan ke pihak PLN tanpa meminta ganti rugi untuk membantu melayani masayarakat di Kei Besar.

“Sampai katong pung mesin yang ada katong serahkan. Saya bilang kamong bawa sudah, kamong ambel sudah mesin itu yang penting masyarakat menikmati listrik itu tapi hasilnya nol. Jadi, sampai saat ini saya tidak akan percaya dengan yang namanya PLN Maluku-Malut, itu pembohong besar. Beta minta wartawan catat itu,” tegasnya.

(dp-49)
Share it:

Daerah

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi