Pemdes Adaut Beri Bantuan Rumah Tak Sepenuh Hati

Pemerintah Desa Adaut, Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar rupanya tak sepenuh hati memberikan bantuan rumah layak huni kepada warganya.
Share it:
Kondisi salah satu rumah bantuan Pemdes Adaut yang hingga saat belum rampung pekerjaannya
Saumlaki, Dharapos.com - Pemerintah Desa Adaut, Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar rupanya tak sepenuh hati memberikan bantuan rumah layak huni kepada warganya. 

Pasalnya, pemberian bantuan 8 unit rumah yang baru dibangun awal November 2018 lalu itu hanyalah rumah papan, dan tak ubahnya dengan rumah sebelumnya.

Dan, parahnya lagi, rumah-rumah bantuan tersebut belum rampung hingga saat ini.

Fakta ini terungkap saat sejumlah warga penerima bantuan dimaksud mengungkapkan hal itu kepada media ini, di Desa Adaut, pekan kemarin.

"Jadi waktu kita selaku penerima bantuan rumah ini dipanggil untuk rapat bersama dengan Pemerintah Desa, lalu di kasih tahu bahwa lamanya waktu pekerjaan rumah-rumah ini 2 minggu. Tapi mungkin ada hal-hal lain yang menyebabkan sehingga belum terselesaikan makanya belum selesai sampai hari ini. Saya mau cek kepastian juga bagaimana, sementara saya ini pengurus RT. Itu sama saja dengan saya tanya pada diri saya sendiri," terang JK, salah satu warga penerima manfaat.

Ia mengaku pasrah menerima bantuan yang diberikan Pemdes Adaut kepadanya.

“Begini saja lah kami terima, karena kalau kita banting kepala di batu juga tidak mungkin batu yang pecah, malahan kepala kita yang pecah. Jadi percuma saja! Padahal harapan kami sebenarnya, bantuan itu bisa lebih bernilai dari rumah kami yang awal,” sesal JK.

Keluhan yang sama juga disampaikan warga lainnya, Lukas Beresaby.

Tampak lantai  rumah yang belum rampung dikerjakan
"Kami dengar informasi awal dari Kepala Desa bahwa kami akan mendapatkan bantuan rumah dengan kontruksi setengah beton, serta ukuran 6 x 8. Tapi setelah itu dirubah lagi bantuannya jadi rumah papan saja dengan penyekat kamar hanyalah triplex 5 mili. Jika rumah lama saja sekatnya masih pakai papan, bantuan ini malah turun nilanya," bebernya.

Lukas mengaku, dirinya sempat menanyakan hal itu ke Pemdes terkait alasan kenapa bantuan rumah tersebut tidak dibangun setengah tembok.

“Mereka (Pemdes, red) jawab tidak ada orang yang cetak batako. Ini benar-benar alasan yang tak bisa di terima bahkan anak TK sekalipun. Bahan yang di siapkan oleh Pemdes berupa papan 2 kubik, semen 5 sak, kayu besi dan kayu putih,” herannya.

Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi dialami keluarga Petrus Amboki. Karena dijanjikan akan diselesaikan dalam waktu 2 minggu, maka ia bersedia rumahnya di bongkar semua. 

Ternyata, faktanya tak begitu, pekerjaan pun tertunda hingga akhir Januari 2019. Malahan baru tahap tutup atap, sehingga keluarga ini harus tinggal di tiris rumah saja. 

Mereka harus berdesak-desakan kala tidur dalam dapur ukuran 4 x 2,5 meter dengan jumlah penghuni rumah 9 orang terdiri dari 2 kepala Keluarga (KK).

"Saya rasa tidak senang tinggal di dapur 2 bulan ini bersama orang tua dan kakak saya karena kalau tidur, kami rasa sesak sekali. Saya ingin pekerjaan cepat selesai supaya kami bisa tinggal dengan nyaman," kesal Sofia Amboki, gadis berumur 11 tahun saat diwawancarai.

Sementara itu, kepala Desa Ignasius Batlayar yang dikonfirmasi melalui telepon selulernya menjelaskan saat ini bangunan-bangunan rumah itu sebagian sudah lanjut dibangun dan sampai pada tahap tutup atap.

Sofia Amboki, gadis berumur 11 tahun yang mengeluhkan kondisi tempat tinggalnya
"Terlambatnya proses pekerjaan bangunan rumah dari rencana awal 2 minggu ini disebabkan karena keterlambatan SPJ,” jelasnya.

Kades juga mengklaim alasan rumah bantuan tersebut tidak jadi memakai beton karena disamaratakan dengan bantuan rumah layak huni pada 2017 lalu.

“Karena tahun 2017 itu kami juga bangun 8 unit rumah papan lagi, sehingga tahun 2018 kami samakan saja agar tidak ada kecemburuan sosial,” klaimnya.

Ketika ditanya soal berapa besaran dana yang dialokasikan untuk pembangunan rumah bantuan 8 unit tersebut, Kades mengaku tak ingat nilainya.

"Saya harus lihat RAB, agar bisa tahu. Jangan sampai salah. RAB tahun 2017 juga saya lupa," sambung Batlayar.

Untuk diketahui, bahan material pembangunan  8 unit rumah papan tersebut disuplai oleh suplayer Yeremias Batlayar dan Meki Batlayar. 

Anggaran 182 juta yang bersumber dari Dana Desa Adaut tahun 2018 itu telah masuk ke rekening Yeremias Batlayar pekan lalu. 

Para suplyer anak dan Bapak itu telah duduk bersama Pemdes untuk menghitung jumlah material. 

"Pak Camat sudah panggil kita ke Kantor desa untuk bicarakan semua termasuk pemotongan harga bahan dan material. Total semua Rp150.000.000,- Sedangkan sisa Rp30.150.000,- sudah di kembalikan ke PKD untuk selanjutnya nanti mereka sendiri yang belanja," terang Batlayar.

(NK)
Share it:

Daerah

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi