Bupati Malra Pimpin Prosesi Adat Kembalikan Kasih yang Hilang

Bupati Moh. Thaher Hanubun bersama Wakil Bupati Petrus Beruatwarin, Sekretaris Daerah, sejumlah pimpinan tinggi TNI - Polri, Raja-raja dan seluruh Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Maluku Tenggara menggelar prosesi adat.
Share it:
Bupati Moh. Thaher Hanubun bersama Wabup, Sekda, Ketua DPRD, pimpinan TNI - Polri, Raja-raja
dan seluruh pimpinan OPD Kabupaten Malra menggelar prosesi adat, Kamis (8/11/2018)
Langgur, Dharapos.com 
Bupati Moh. Thaher Hanubun bersama Wakil Bupati Petrus Beruatwarin, Sekretaris Daerah, Ketua DPRD, sejumlah pimpinan tinggi TNI - Polri, Raja-raja dan seluruh Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Maluku Tenggara menggelar prosesi adat, Kamis (8/11/2018).

Mengawalinya dari Danar kemudian berlanjut ke Desa Elaar, Samawi dan Desa Rat.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan speed boat menuju ke Desa Feer (Desa Raja) di Pulau Kei Besar sebagai lokasi terakhir dalam prosesi adat tersebut.

Bupati Malra, Muhamad Thaher Habubun usai menggelar prosesi adat di Desa Feer,  mengungkapkan bahwa seluruh prosesi yang telah dilakukan adalah untuk mewujudkan kinerja yang profesional dan betul-betul bertanggung jawab.

"Memang ini dia mempunyai sejarah sendiri yang pertama yaitu kita ini ingin mengabdikan diri di Kabupaten Maluku Tenggara ini dan kita mesti membersihkan diri baik secara sadar maupun tidak sadar kita telah berbuat salah. Makanya saya sebut dalam bahasa Suku Kei yaitu kami salah, ya salah dan  benar, ya benar," urainya.

Untuk itu, dirinya bersama seluruh jajaran di Kabupaten Maluku Tenggara memohon ampunan kepada Tuhan dan para Leluhur untuk memberikan jalan yang benar ke depan.

Memang diakuinya, beberapa waktu yang lalu, sadar atau tidak sadar ada sebuah tragedi yang telah terjadi dan dari tragedi itu perlu dilakukan sebuah pengakuan.

"Dalam Hukum Larvul Ngabal, kita harus mengakui bahwa kita telah melanggarnya sehingga kasih sayang pada waktu itu telah hilang. Nah, yang sekarang saya perjuangkan dan yang saya pertahankan tanpa batas itu adalah mengembalikan kasih sayang antara kita sesama masyarakat, baik yang berasal dari suku Kei ataupun dari suku-suku lainnya. Pada intinya kita harus mempertahankan kasih," tandasnya.

Terkait kepemimpinan di daerah ini, Bupati menegaskan tak hanya dirinya dan Wakil Bupati.

"Jadi, bukan saya dan pak Wakil Bupati sendiri yang memimpin tapi ada juga Sekda dan strukur organisasi sehingga semua harus tahu dan mengenali adat dan budaya di wilayah kita ini terutama hukum Larvul Ngabal yang telah dicetuskan Nen Dit Sak Mas," tegasnya.

Lambang Nen Dit Sak mas itu untuk menjaga, yakni "HIRA NI ENTUB FI NI, IT DID ENTUB FO IT DID (Barang Milik Orang Tetap Menjadi Miliknya, Milik Kita Tetap Menjadi Milik Kita).

Karena itu, ia mengingatkan orang tidak sembarang menggunakan sasi-sasi namun sasi yang seperti apa.

"Kalau sasi yang dimaksud dengan "HUWEAR BALWARIN" itu sangat memiliki arti dan makna yang luar biasa. Namun jika disalahgunakan maka hukumnya akan kembali mengenai oknum yang memasang atau menyalahgunakan sasi itu. Intinya, sasi itu untuk menjaga, yakni menjaga batas-batas tanah dan juga menjaga diri sehingga lambang Nen Dit Sak Mas itu jangan digunakan untuk kepentingan sesaat," bebernya.

Ditegaskan pula, penggunaan sasi di mana saja itu harus melalui izin Raja.

"Jika misalkan sasi itu tidak melalui izin dari Raja dan di dirikan begitu saja maka pastinya dampak dari pemasangan sasi yang tidak seharusnya itu bisa berbahaya bagi oknum yang memasangnya. Jadi minimal jika ingin memasang sasi, harus diketahui oleh raja. Bukan persoalan di terima atau tidak terima namun sepatutnya harus diketahui oleh raja," sambungnya.

Disinggung mengenai pembenahan jalan terutama menuju ke lokasi tempat wisata Adat, Bupati mengaku telah memiliki program yang ke depannya akan segera direalisasikan.

"Mengenai pengembangan wisata adat dan budaya kita di tanah kita tercinta ini.  Saya inginkan adalah tempat-tempat adat dan budaya kita ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat, baik itu wisata budaya, religius dan lain-lain," harapnya.

Indonesia mengenal Raden Ajeng Kartini, Cut Mutia dan Cut Nyak Din serta para pahlawan perempuan lainnya.

"Dan kita pun patut berbangga karena kita memiliki Nen Dit Sak Mas yang begitu luar biasa. Oleh karena itu kita perlu merawatnya dengan baik sehingga tidak terjadi sebuah penghinaan atau sesuatu yang jelek terhadap wanita-wanita Evav," imbuhnya.

Harapan Bupati kepada seluruh masyarakat Malra untuk bersama-sama dan bergandengan tangan membangkitkan Hakikat Orang Kei sebagaimana istilah dalam Bahasa Bahasa Kei "  Manut Ain Mehe Tidur, Vuut Ain Mehe Ngifun". (Kita semua telur sama bentuk, sama warna dan sama-sama berasal dari satu induk ayam. Sekalipun setiap telur terpisah satu dengan yang lain).

"Pada intinya bahwa kita semua adalah keluarga maka kita harus saling menyayangi dan saling bekerja sama sehingga kita jangan lagi melakukan perbedaan di lapangan. Kita harus bekerja dengan profesional," imbuhnya.

Akhirnya, Bupati mengharapkan kesadaran dari seluruh staf dan jajarannya.

"Jabatan adalah bukan segalanya karena itu adalah sesuatu yang di amanatkan oleh Tuhan dan setelah itu selesai. Namun yang terpenting adalah kita harus menjaga tali ikatan persaudaraan kita antara satu dengan yang lain," tukasnya.

(dp-40)
Share it:

Daerah

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi