STIS Mutiara Tual gelar debat tentang "Hukum Sasa Sor Fit"

Sekolah Tinggi Ilmu-Ilmu Sosial (STIS) Mutiara Tual, kembali melakukan debat mahasiswa tentang "Hukum Sasa Sor Fit" atau yang umumnya dikenal dengan sebutan Hukum Larvul Ngabal.
Share it:
Foto bersama seusai kegiatan debat mahasiswa yang digelar STIS Mutiara Tual 
Langgur, Dharapos.com
Sekolah Tinggi Ilmu-Ilmu Sosial (STIS) Mutiara Tual, kembali melakukan debat mahasiswa tentang "Hukum Sasa Sor Fit" atau yang umumnya dikenal dengan sebutan Hukum Larvul Ngabal.

Debat yang berlangsung di aula kampus itu dihadiri sejumlah mahasiswa STIS Mutiara Tual.
Turut hadir pula, beberapa mahasiswa KKN dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Terkait kegiatan itu, Ketua Yayasan Stis Mutiara Tual, Silvius Rejaan, yang dikonfirmasi menjelaskan debat ini diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Pemerintahan, Semester IV .

"Ini merupakan sebuah inisiatif yang diselenggarakan pada setiap semester pertahunnya guna melestarikan budaya fasih berbahasa daerah," jelasnya.

Selain itu juga, untuk memberikan pengetahuan secara utuh kepada mahasiswa agar dapat mengetahui secara pasti tentang sejarah terbentuknya beserta tujuan pembentukan hukum Sasa Sor Fit itu sendiri.

“Mereka perlu tahu secara baik dari mana hukum itu berasal dan siapa yang lebih awal  menciptakan hukum itu. Dan juga mereka dapat mengambil nilai positif dari hukum tersebut mulai dari hukum pidana maupun perdatanya,” lanjut Silvius.

Baginya, pelaksanaan kegiatan ini sudah sangat tepat namun Silvius menyesalkan ketidakhadiran sejumlah besar mahasiswa khususnya yang berasal dari Suku Kei.

“Sebetulnya momen ini sudah sangat tepat, hanya saja kesadaraan dari para mahasiswa sangat
kurang, khususnya pribumi (Kei, red) karena yang hadir hanya sedikit saja ditambah dengan kehadiran beberapa mahasiswa KKN yang berasal dari UGM," sesalnya.

Menurut Silvius, begitu penting untuk setiap orang di Kepualauan kei mengetahui secara baik nilai dan aturan yang terkandung di dalam hukum Sasa Sor Fit .

“Sebetulnya, jika kita mempelajari dan mengetahui secara baik tentang hukum-hukum ini, maka banyak nilai positif yang akan kita dapatkan sehingga hukum ini dapat menjadi pedoman atau pegangan bagi diri kita dalam menjaga setiap tingkah laku di kehidupan sehari-hari," urainya.

Secara pribadi, Silvius mengaku bangga menjadi Orang Kei karena hukum ini sudah lebih dahulu dibentuk oleh para leluhur, jauh sebelum masa penjajahan dan hukum positif ada.

Di dalam hukum  Sasa Sor Fit  ini juga terkandung nilai-nilai yang menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang wanita.

"Inti dari kegiatan debat ini adalah, selain memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang Hukum Sasa Sor Fit, kami juga menginginkan agar setiap mahasiswa dapat memperbiasakan diri mereka agar fasih berbicara dengan menggunakan Bahasa Kei," sambung Silvius.

Karena menurutnya, lama kelamaan jika hal semacam ini tidak diperbiasakan maka dengan sendirinya Bahasa Kei akan terancam punah ketika tidak dilestarikan oleh generasi muda.

Diakuinya, kegiatan yang sama pernah dilaksanakan pada 2014 lalu namun pada waktu itu fokusnya lebih besar.

"Waktu itu kami laksanakan di ruang aula Kantor Wali Kota Tual dengan melibatkan  Prof. Johanes Ohoitimur sebagai pembicara kunci dan kami juga turut menghadirkan para Raja-raja dan para Pemangku Adat," bebernya.

Silvius pun berharap, generasi muda sekarang  harus pandai berdialog dengan menggunakan bahasa Kei, khususnya mereka yang berasal dari suku Kei sendiri.

"Kita sendiri telah banyak melihat ada banyak anak yang salah satu orang tuanya berasal dari suku atau daerah luar namun sangat fasih atau lancar dalam menggunakan Bahasa Kei," akuinya.

Oleh sebab itu, STIS Mutiara Tual yang juga selaku lembaga kajian akan terus mendorong dan melakukan berbagai upaya untuk memberikan suatu pengetahuan kepada seluruh mahasiswa agar pandai dan lancar dalam menggunakan bahasa daerah Kei.

Ke depannya, pihaknya berencana akan melakukan kegiatan yang sama dan akan merekomendasikan kepada Pemerintah daerah terutama kepada Bupati dan Wakil Bupati terpilih yang baru agar kegiatan semacam ini dapat menjadi salah satu agenda rutin setiap minggunya.

"Kami juga berharap agar kegiatan semacam ini tidak hanya di lakukan pihak kampus saja, namun kalau boleh di setiap perkantoran turut digalakkan sehingga setiap orang di daerah ini juga dapat berkomunikasi secara baik dengan menggunakan bahasa daerah," tukasnya.

(dp-40)
Share it:

Daerah

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi