Pemkab MTB Kembali Gelar Seleksi Ulang PKD

Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) bakal melakukan seleksi administrasi bagi lebih dari 1.000 orang Pegawai Kontrak Daerah (PKD) untuk selanjutnya mengikuti seleksi lanjutan pada tanggal 8 - 10 Januari 2018.
Share it:
Bupati MTB, Petrus Fatlolon
Saumlaki, Dharapos.com 
Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) bakal melakukan seleksi administrasi bagi lebih dari 1.000 orang Pegawai Kontrak Daerah (PKD) untuk selanjutnya mengikuti seleksi lanjutan pada tanggal 8 - 10 Januari 2018.

Seleksi tersebut menindaklanjuti Surat Edaran Bupati MTB nomor: 814-1/142/SE/2017 tanggal 27 Desember 2017 tentang Pengembalian Tenaga Kontrak Daerah tahun anggaran 2017.

“Saya perlu meluruskan bahwa kita bukan merumahkan para PKD. Dalam hubungan kerja antara Pemerintah MTB dengan PKD itu tidak ada istilah dirumahkan tetapi yang ada itu karena masa kerja sesuai kontrak mereka sudah berakhir maka kita seleksi ulang lagi dengan tetap menyesuaikan pada analisa beban kerja setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD),” terang Bupati Petrus Fatlolon di Saumlaki, Senin (1/1/2018).

Ia menyatakan bahwa semenjak surat edaran itu dikeluarkan, ada beberapa pihak tertentu yang sengaja mempolitisir kondisi ini seolah-olah Pemkab MTB merumahkan PKD.

Padahal berdasarkan SK pengangkatan Tenaga Kontrak Daerah, para PKD tersebut harus dikembalikan karena batas kontraknya berakhir tanggal 31 Desember 2017.

Dijelaskan bahwa dari segi administratif, para PKD diikat dengan perjanjian kerja dalam kurun waktu tertentu yakni dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember dan karena kontraknya telah berakhir maka Pemkab merasa perlu untuk melakukan seleksi ulang, karena tidak semua PKD secara otomatis diterima kembali.

Seleksi pengangkatan PKD yang baru tersebut tetap mempertimbangkan sejumlah hal selain analisa beban kerja setiap SKPD.

Dipastikan, tenaga PKD yang dibutuhkan nanti jumlahnya berkurang dari 1.000 orang.

Hal-hal yang menjadi alasan dilakukannya seleksi ulang terhadap PKD adalah berdasarkan hasil evaluasi, terjadi kelebihan PKD pada SKPD tertentu sehingga terjadi pengurangan beban kerja para Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan mengakibatkan banyak PNS yang punya waktu luang.

“Ada di SKPD tertentu yang ada nama PKD tetapi sesungguhnya orangnya tidak ada semenjak 3 sampai 4 tahun tetapi gajinya terus dibayarkan. Selain itu ada PKD yang berbulan-bulan tidak berkantor dan menanti waktu gajian barulah PKD yang bersangkutan masuk kantor untuk menerima upah kerja,” bebernya.

Hal penting yang ditekankan Bupati Petrus saat diwawancarai adalah terkait kondisi keuangan daerah yang tidak bisa membiayai seluruh PKD.

Dia menyebutkan bahwa dalam setahun, Pemkab harus menganggarkan Rp. 58 Miliar untuk belanja upah kerja seluruh PKD.

“Kalau Rp.58 Milyart ini kita keluarkan sesuai dengan kebutuhan riil setiap SKPD itu tidak masalah, tetapi ternyata sebagian dari PKD itu sudah tidak ada. Itu berarti terjadi pemborosan keuangan daerah karena setiap tahun tetap kita anggarkan,” tegasnya.

Selanjutnya ada sejumlah factor lain seperti umur sejumlah PKD yang telah melebihi ambang batas umur sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku, serta ada PKD yang dilaporkan sudah tidak maksimal dalam melaksanakan tugas karena sakit-sakitan.

“Mengenai jumlah tenaga PKD ini kita tetap berpedoman pada analisa beban kerja dari setiap SKPD.
Misalnya di bagian perbatasan, sesuai analisa beban pegawai itu cukup ditempati oleh 12 orang pegawai tetapi saat ini ditempati oleh 14 orang PNS. Nah mestinya dari sisi organisasi dan beban kerja, sudah tidak perlu lagi ditambah PKD karena mereka mau kerja apa sementara beban kerja sudah terdistribusi habis kepada PNS,” katanya.

Meski demikian, di SKPD lain seperti di Dinas Pekerjaan Umum dan Pertambangan, Bagian Umum Setda MTB, dinas Pendidikan, dinas Kesehatan masih membutuhkan tenaga kontrak daerah.

Seleksi yang dilakukan nanti menurut Bupati hanya berlaku untuk para PKD yang telah di SK-kan tahun lalu serta dibuka pendaftaran melalui jalur umum hanya bagi tenaga dokter, bidan serta spesifikasi Sarjana Teknik Sipil, planologi dan arsitektur.

Materi seleksi administrasi meliputi batasan umur, standar  lulusan jenjang pendidikan, disertai kualifikasi atau latar belakang pendidikan sesuai kebutuhan SKPD masing-masing.

“Seleksi ini kita akan lakukan sedikit ketat dengan tujuannya adalah supaya nanti dua atau tiga tahun mendatang itu tidak perlu lagi ada seleksi. Yang lulus seleksi ini kita akan tetapkan dengan surat keputusan dan mereka akan star kerja dari pertengahan  Januari 2018 sampai 31 Agustus 2019,” tambahnya.

Dalam seleksi nanti, Pemkab membutuhkan tambahan 5 orang tenaga dokter untuk diangkat sebagai PKD dan akan digaji setiap bulan secara rutin dengan tambahan insentif senilai Rp5 juta per bulan.

Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk tetap mempertahankan tenaga dokter agar tetap berkarya di MTB.

Oleh karena sesuai hasil evaluasi, ada sejumlah dokter yang tidak mau berkarya  di wilayah MTB karena tidak digaji oleh Pemkab dan hanya diberikan insentif senilai Rp3,5 juta per bulan, padahal di kabupaten lain setiap tenaga dokter diberikan upah setiap bulan ditambah insentif minimun Rp.5 juta per bulan.

Bupati berjanji, para PKD yang akan di SK-kan nanti tidak akan mengalami keterlambatan dalam menerima gaji setiap bulan seperti biasanya, karena gaji PKD akan dibayarkan setiap bulan berjalan bersamaan dengan gaji PNS termasuk tambahan penghasilan lain.

“Tahun kemarin itu tahun transisi dimana kita lakukan pembenahan maka tahun ini adalah tahun kerja dengan moto: kerja Cepat, Tepat dan Terukur untuk mewujudkan visi Tanimbar yang  Cerdas, Sehat, Berwibawa dan Mandiri,” pungkasnya.

(dp-18)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Maluku Tenggara Barat

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi