Diancam Gurunya, Siswa SMANSA Tansel Trauma

Dunia pendidikan menengah di Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) kembali dihebohkan dengan permasalahan sepele namun menyita perhatian sejumlah pihak.
Share it:
Ny. Elvi Lekruna (35) orang tua YM, siswa SMANSA Tanimbar Selatan  
Saumlaki, Dharapos.com 
Dunia pendidikan menengah di Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) kembali dihebohkan dengan permasalahan sepele namun menyita perhatian sejumlah pihak.

Sebut saja YM (17) siswi kelas 3 SMA Negeri 1 (SMANSA) Tanimbar Selatan yang mengaku takut kembali ke sekolah untuk mengikuti proses belajar karena trauma dengan ancaman salah seorang gurunya.

Kepada wartawan, YM bercerita bahwa ancaman dari gurunya itu berawal saat dirinya hendak meminta izin untuk meninggalkan ruang kelas sementara waktu agar bisa membeli obat karena sedang sakit gigi.

“Persis jam pelajaran, gigi saya sakit. Karena sakit maka saya menangis sehingga ada teman yang bilang saya untuk minta izin untuk pulang beli obat. Lalu saya minta izin di guru mata pelajaran Biologi untuk mau pulang beli obat antalgin tetapi ibu marah dan suruh saya duduk,” tuturnya.

Karena sakitnya semakin bertambah dan tak ada respons dari gurunya maka YM pun melepaskan tangisan hingga suaranya terdengar oleh sang guru.

“Pada saat duduk dan sementara menangis, ibu guru bilang untuk teman-teman dalam kelas bahwa kamu angkat dia keluar sana, lempar dia keluar dari jendela kalau seng (baca: tidak) maka beta (baca: saya) tendang dia.  Dalam kondisi begitu karena ketakutan maka saya sms mama untuk datang jemput untuk pergi beli obat,” bebernya.

Ny. Elvi Lekruna (35) orang tua YM menyatakan bahwa saat tiba di kantor SMANSA dirinya diarahkan untuk duduk menanti anaknya dipanggil, namun tiba-tiba didatangi sang guru tersebut lalu mengancamnya dengan kata-kata yang tidak etis.

“Ibu guru Rumyaru ini ke kantor langsung melontarkan perkataan yang kurang enak untuk saya dan semacam mengancam, karena merasa diancam maka saya tegur dengan suara lantang bahwa ibu mau turunkan tangan atau saya angkat tangan” katanya.

Ny. Elvi mengaku akhirnya diusir bersama anaknya dari sekolah, dan sang guru tersebut mengancam anaknya untuk tidak diperbolehkan mengikuti mata pelajaran Biologi hingga ujian nanti.

Tak merasa puas dengan perlakuan para guru,  Ny. Elvi akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke pos penjagaan Polres MTB.

Anggota DPRD MTB, Wan Lekruna
Anggota DPRD MTB, Wan Lekruna yang ditemui secara terpisah menyayangkan sikap guru tersebut.

Menurutnya tugas guru adalah menggantikan orang tua di saat jam belajar atau di lingkungan sekolah sehingga dalam mendidik siswa hendaknya tidak mengeluarkan ancaman.

“Metode pembelajaran di sekolah itu beda dengan tempat pendidikan militer. Saya sangat kecewa karena dari satu sisi bukan karena keponakan saya lalu saya mengambil respons seperti ini. Tapi seandainya terjadi pada siswa-siswa yang lain dan mungkin saja saya perkirakan kejadian seperti ini sudah pernah terjadi lalu orang tua tidak mampu untuk menyampaikannya ke publik atau di tempat lain untuk disikapi,” katanya.

Sependapat dengan orang tua siswa, Wan juga menyatakan bahwa perbuatan oknum guru tersebut jika terus menerus dilakukan maka secara psikologi, anak akan terganggu dan berdampak pada konsentrasinya di sekolah.

Apalagi saat itu di lihat oleh teman-temannya serta sebagian besar guru yang ikut tertawa melihat   insiden tersebut.

“Akhirnya siswa ini mau ke sekolah tapi merasa trauma. Kalau itu persoalan yang secara manusiawi tidak dijadikan sebagai persoalan hukum  maka itu salah karena sebagai seorang guru tidak boleh mengeluarkan bahasa seperti itu bahwa melemparkan anak keluar kelas, bahkan menyuruh anak didiknya  untuk melemparkan si korban dari ruangan. Coba bayangkan kejadian seperti itu jika terjadi pada anaknya si guru yang bersangkutan, apakah dia terima ? Semestinya dia mendidik anak bukan mengeluarkan kalimat seperti itu,” kecamnya.

Kepada wartawan dia mengaku akan menyampaikan persoalan ini kepada kepala SMANSA, kepada Pemerintah Daerah Kabupaten MTB, termasuk akan mendatangi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Maluku.

Kepada orang tua siswa, Wan berpesan agar hal tersebut menjadi pelajaran berharga.

Orang tua hendaknya sewaktu-waktu mengecek kondisi anak di sekolah sehingga persoalan serupa tidak terulang lagi.

Sementara itu, Kepala SMANSA saat dihubungi belum bisa memberikan keterangan oleh karena oknum guru tersebut saat itu  tidak berada di tempat.

Kepsek berjanji akan menyediakan ruang klarifikasi atas kejadian yang sebenarnya bersama oknum guru dimaksud.

(dp-18)
Pantas vor Ambon 1
Share it:

Daerah

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi