Laut Bukan Milik Katong? Elegi : Kutukan Sumberdaya Alam (The Resources Curse)

Penggunaan isitilah resource curse untuk menggambarkan paradox yang dihadapi negara yang memiliki SDA (natural resources) melimpah (terutama yang tidak terbarukan atau non-renewable resources).
Share it:
Amin Nasrun Renur
Penggunaan isitilah resource curse untuk menggambarkan paradox yang dihadapi negara yang memiliki SDA (natural resources) melimpah (terutama yang tidak terbarukan atau non-renewable resources).

Namun, dari segi tingkat pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negara tersebut cenderung lebih rendah, jika dibandingkan dengan negara lain yang justru tidak memiliki sumber daya alam.

Dari sisi statistik mungkin saya tidak akan membahas data yang pada gilirannya hanya merupakan kumpulan angka yang peruntukannya hanya untuk kepentingan research atau bidang pemerintahan.

Namun saya tergelitik sekali lagi terkait data Biro Pusat Statistik, yang mungkin menurut saya naïf ketika ditelaah rata-rata konsumsi dan pengeluaran per kapita sehari menurut jenis bahan makanan justru sumber kalori masih rendah dari ikan yang rendah jika dibandingkan dengan daging (Sumber: Maluku Dalam Angka 2014).

Ini mungkin bisa diargumentasikan namun secara awam tentunya akan elok ketika apapun itu sumber utama kalori dan protein harusnya berasal dari ikan bagi kita orang Maluku.

Bahkan ketika ditelaah pertumbuhan ekonomi yang dicapai tentunya perlu dikaji lebih jauh karena apakah itu merupakan pertumbuhan alami yang riil merupakan pertumbuhan dari akumulasi sektor-sektor basis ekonomi di Maluku atau jangan-jangan itu hanya merupakan pertumbuhan semu dan tidak berkelanjutan?

Apakah pertumbuhan itu juga telah terdistribusi dalam konteks pemerataan? Atau bahkan apakah pertumbuhan yang ada justru menimbulkan dampak negatif bagi SDA dan lingkungan?

Kondisi tersebut di atas hanya beberapa contoh dan kasus kecil yang merupakan paradoks bahwa sektor kelautan dan perikanan yang di dalamnya masih banyak sub sektor yang sebenarnya sangat potensial dan masih terdapat banyak hal yang perlu dibenahi.

Apalagi dalam dimensi yang lebih luas dalam konteks kemaritiman maka tentu saja halaman-halaman buku kita masih perlu dibuka lembar demi lembar karena dalam konteks ekonomi kelautan, kita wajib mendayagunakan fungsi laut dan sumberdaya kelautan sebagai basis ekonomi kita yang didukung aktivitas ekonomi berbasis daratan dalam konteks  pertumbuhan dan pemerataan pembangunan dalam rangka peningkatan kesejahteraan rakyat secara berkelanjutan

Menyikapi dan mencermati konsep tersebut di atas tentunya masih banyak PR yang perlu diselesaikan karena pemikiran kami, PR ini ada time limit atau batas waktu sehingga potensi yang ada tersebut tidak hilang dalam mimpi dan angan kita, entah karena rusak, dicuri orang atau bahkan dikuasasi orang dalam arti yang lebih luas tentunya.

Dari beberapa data dan fakta tersebut tentunya sudah banyak faktor pendukung yang menjadi prasyarat untuk bergerak menuju Provinsi yang berbasis kelautan dan perikanan apalagi dengan pencanangan lumbung ikan di Maluku.

Namun tiga kisah terkait, Satgas Pengawas Perikanan, siswa SD dan teman kuliah saya tentunya menjadi petir buat kita bahwa salah satu ketertinggalan kita adalah SDM khususnya bidang kelautan dan perikanan.

Penyataan ini tidak bermaksud untuk menaifkan keberadaan SDM di Maluku ataupun SDM kelautan dan perikanan khususnya saat ini namun yang kami maksudkan adalah kondisi dimana apakah kita memang telah siap menjadi daerah yang berbasis kelautan dan perikanan?

Bahwa pembangunan yang kita butuhkan adalah SDM yang memang lahir bukan hanya melalui pendidikan formal pada tingkat perguruan tinggi namun juga merupakan SDM yang memang dilahirkan dan dibesarkan (born to be) untuk menguasai laut sebagai tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka, yang nantinya akan bersinergis dengan kekuatan akademis yang ada, dukungan pemerintah dan politik serta stakeholder (masyarakat, LSM, tokoh adat, agama, pers) secara terintegrasi melalui terobosan policy.

Dan ini membutuhkan cara pandang pemimpin yang mampu dan memiliki pandangan kedepan (the future leader)

Hasil studi Denison (1985) menyatakan bahwa investasi di bidang SDM jutsru berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 16 % yang lebih besar jika dibanding dengan investasi bidang capital yang hanya berkontribusi 12 % saja.

Bahkan jika  mencontoh China sebagai salah satu negara yang saat ini memiliki pertumbuhan ekonomi terbesar justru kontribusi sektor perikanan adalah yang terbesar 48,4 % terhadap GDP padahal panjang garis pantainya hanya 32.000 Km sementara kita dengan panjang garis pantai 81.000 Km kontribusi perikanan terhadap PDB hanya mencapai 20 % (DKP, 2003).

Dan itu tidak diraih dalam waktu singkat dan program yang instan, namun ditempuh misalnya melalui jalur sutra maritime yang dicanangkan sejak tahun 1949 dan sejak tahun 1956 arah kebijakan China diarahkan untuk pengembangan SDM dan teknologi yaitu melalui slogan “march to science” (Suhana, 2015)

Kita sudah memiliki perguruan tinggi baik universitas, akademi dan politeknik dan sekolah kejuruan yang berbasis laut namun hemat saya dari beberapa cerita kecil di atas  tentunya bisa kita simak bahwa
pengembangan Maluku sebagai daerah kelautan dan perikanan serta maritim harusnya yang menjadi prime mover adalah SDM anak anak Maluku yang kesemuanya itu perlu didobrak melalui pendidikan formal dan non formal dari tingkat usia dini yang menanamkan bahwa kita hidup di laut, dan seterusnya pada tingkat SD – SLTA, hingga perguruan tinggi.

Dan inovasi dan kreativitas dari pemuda kita untuk berpikir out of the box keluar dari kukungan formalitas dan pragmatis bahwa berkarya untuk negeri bukan hanya melalui pendidikan formal dan kerja formal.

Karena yang kita butuh adalah kemauan dan keinginan yang kuat  bahwa kita bisa hidup di atas tanah tumpah darah kita yaitu di atas laut dan untuk itu kita harus kenali, pelajari dan kuasai laut Kita ……!!!
Love You Maluku. 

* Penulis adalah Staf Pemerintah Kota Tual & Pencinta Maluku 

Share it:

Ekonomi dan Bisnis

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

terima kasih telah memberikan komentar

Berita Pilihan Redaksi